Sampaisekarang pun , kejadian seperti cemburu , twitter cinta dan timeline terjadi sehari* . Dimana kita cemburu oleh dunia maya karena kata* mesra , manusia jaman skrg itu gak bakal bsa bersabar lebih baik dri pada jaman orang* dulu .. Mereka punya emosi yang berbeda* dan mereka punya tingkat kesabaran masing* . Hanya saja gue belajar 1 . Duniapendidikan terus berkembang dari tahun ke tahun. Tak hanya berbicara soal kurikulum, perbedaan cara belajar dulu dan sekarang pun ditentukan sejumlah aspek seperti media dan sarana. Kamu pasti sering dengar cerita Ayah dan Ibu saat mereka masih bersekolah, bukan? Pasti banyak dari kalian yang berpikir betapa berbedanya kurikulum serta cara belajar siswa zaman dulu MesinMobil Zaman Dulu, sumber Pikist. 5. Baja Berkekuatan Tinggi. Fitur keselamatan tak ada artinya tanpa kehadiran baja berkekuatan tinggi. Semakin canggih metalurgi, membuat pabrikan dapat menciptakan rangka dengan beragam kelebihan, seperti mudah dibentuk, tahan karat, dan berbobot lebih ringan. Vay Tiền Trả Góp 24 Tháng. Jakarta, Muslim Obsession – Lebaran tahun 2023 atau 1444 H diprediksi akan berbeda hari. Muhammadiyah sudah menetapkan Hari Raya Idul Fitri pada Jumat, 21 April 2023. Sedangkan, pemerintah diduga akan menetapkan Lebaran pada Sabtu, 22 April 2023. Anjuran pemerintah inilah yang akan menjadi patokan resmi perayaan Lebaran bagi seluruh umat Muslim di fenomena lebaran beda hari tidak perlu dipermasalahkan, karena metode pengitungannya perbedaan hari raya lebaran tidak hanya berlangsung pada saat ini, tapi sudah cukup lama, dan masih saja menimbulkan perdebatan di satu yang mencatat fenomena ini adalah orientalis dan pakar Islam asal Belanda, Snouck Hurgonje. Dalam catatan berjudul Nasihat-Nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936 Jilid VIII 1994, Snouck bercerita ada dua metode menghitung hilal peringatan 1 Syawal di masa berdasarkan penanggalan dan penglihatan terhadap bulan baru atau hilal. Biasanya metode ini dilakukan oleh orang Muslim terpelajar yang mengerti astronomi atau ilmu falak. Mereka melakukannya dengan melihat langsung datangnya bulan di langit di daerah dataran metode kedua, berdasarkan tanggalan yang ditentukan pemerintah Belanda. Tanggalan ini tanpa perhitungan khusus dan hanya menghitung hari sejak puasa hari pertama masa kolonial, Snouck melihat banyak orang yang mengikuti metode pertama. Jika sekarang perhitungan secara empiris atau rukyat dilakukan dengan ketentuan-ketentuan, seperti ketinggian bulan sekian derajat, maka di masa kolonial tidak atau saksi hanya perlu melihat bulan saja. Apabila sudah melihat, maka akan divalidasi. Hasil validasi inilah yang akan dikirim ke pemerintah kolonial untuk ditetapkan sebagai 1 akibat di tiap wilayah Indonesia memiliki perbedaan ketinggian, sudah pasti akan berbeda hasilnya. Di wilayah tertentu bulan sudah terlihat, tetapi tidak di wilayah perbedaan inilah, tulis Ensiklopedia Hisab Rukyat 2005, hari Lebaran juga berbeda. Meski begitu, untuk mensiasati ini biasanya pemerintah kolonial akan melihat suara mayoritas. Jika sekiranya bulan belum terlihat, maka libur lebaran ditambah satu hari untuk menggenapi puasa sebanyak 30 hari. Al Gabung KomunitasYuk gabung komunitas {{forum_name}} dulu supaya bisa kasih cendol, komentar dan hal seru lainnya. QuoteLebaran sebentar lagi gan waktunya kita untuk menuju hari kemenangan dan saling memaafkan Lebaran tentu menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu bagi umat Islam di Indonesia. Gak cuma dimanfaatkan untuk saling bermaaf-maafan gan, momen lebaran biasanya akan dijadikan ajang untuk bersilahturahmi mengunjungi keluarga di kampung halaman. Di Indonesia sendiri momen lebaran udah dirayakan sejak zaman kolonial Belanda Hal Ini terungkap dari foto-foto langka di berbagai daerah yang dirangkum dari berbagai sumber di bawah ini. 1. Beberapa orang tampak meramaikan suasana lebaran di rumah Bupati Bandung, tahun 1932. Spoiler for foto1 foto spaarnestadphoto 2. Anak-anak turun ke lapangan dengan baju cerah saat perayan lebaran di Garut, tahun 1935. Spoiler for foto2 Foto kitlv 3. Masih di Garut, sejumlah pria mengenakan kopiah saat suasana lebaran yang jatuh di akhir tahun 1935. Spoiler for foto3 Foto kitlv 4. Potret salat Idul Fitri di sebuah lapangan di Bangkinang, Kampar, Riau sekitar tahun 1930. Spoiler for foto4 Foto tropenmuseum 5. Sejumlah orang merayakan hari raya lebaran dengan menabuh rebana di Muara Manderas, Jambi, sekitar tahun 1912. Spoiler for foto5 Foto tropenmuseum 6. Beberapa orang menikmati hari lebaran di Pantai Pangandaran, tahun 1929. Spoiler for foto6 Foto tropenmuseum 7. Berfoto bersama di malam hari, menandai masuknya bulan Syawal di Lebong, Bengkulu, tahun 1936. Spoiler for foto7 Foto tropenmuseum 8. Berfoto studio menyambut hari raya Idul Fitri, di Kota Palembang, yang jatuh pada tanggal 17 Juni 1920. Spoiler for foto8 Foto tropenmuseum 9. Tradisi melepas balon udara dan memotong lupis raksasa di Kota Pekalongan 7 hari setelah Lebaran. Spoiler for foto9 Foto ⚡UPDATE⚡ Spoiler for foto lebaran tempo dulu Itulah beberapa foto suasana lebaran tempo dulu gan benar-benar meriah ya tentunya hikmat juga gan Mau lebaran tempo dulu sampai sekarang yang terpenting kita saling memaafkan gan. Mohon maaf y klo ane ada salah Sumber 21-06-2017 1027 Diubah oleh babebow 23-06-2017 0529 Jadul euy 21-06-2017 1027 lebaran jaman dulu jauh beda sama sekarang 21-06-2017 1028 KASKUS Addict Posts 1,430 maaf kak, kalo aku boleh komentar........ suasana jaman dlu memang ramai selalu kak 21-06-2017 1030 zharki memberi reputasi wogh sampe liburan ke pangandaran,gak kalah seru sama jaman sekarang jaman dulu lingkar nagrek kayaknya macet sama andong kali yak 21-06-2017 1031 Mejeng dolo di pejwan 21-06-2017 1031 babebow memberi reputasi lebarannya kapan, om? udah gak sabar pgn dapet angpau dari sodara-sodara ane... 21-06-2017 1040 QuoteOriginal Posted By mulivw►Mejeng dolo di pejwan cendolin ane dong, om... 21-06-2017 1042 wehhhh...asikk yo kayane... 21-06-2017 1042 QuoteOriginal Posted By witchita►maaf kak, kalo aku boleh komentar........ suasana jaman dlu memang ramai selalu kak yo ha...belum ada hp dan lain sebagainya...masi jadul 21-06-2017 1043 keren ya, tapi sekarang udah banyak yang berbeda 21-06-2017 1043 Kaskus Maniac Posts 6,302 gak ada belandanya ya? 21-06-2017 1045 mantab negh gan jadul bener HOT THREAD APPROVED -torture for pleasure 21-06-2017 1046 Kaskus Addict Posts 1,956 Taun segitu emak jg blm lahir 21-06-2017 1049 zharki memberi reputasi KASKUS Addict Posts 1,430 QuoteOriginal Posted By punkfajar► yo ha...belum ada hp dan lain sebagainya...masi jadul tapi sayang ku gk ngerasain jaman2 itu kak 21-06-2017 1051 zharki memberi reputasiQuoteOriginal Posted By solitaire07► cendolin ane dong, om... Cek kulkas dah 21-06-2017 1052 QuoteOriginal Posted By witchita►tapi sayang ku gk ngerasain jaman2 itu kak ya iya lah...kamu kan kelahiran 90 an toh 21-06-2017 1112 Lebaran dari dulu selalu ramai 21-06-2017 1136 foto nya ga berwarna semua ya 21-06-2017 1137 mantav soul 21-06-2017 1137 Aktivis Kaskus Posts 577 21-06-2017 1151 Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Hari Raya AidilFitri atau yang biasa kami sebut Lebaran telah lewat. Namun gema-gema takbir yang berkumandang masih terngiang dengan jelas dalam gendang telinga. Rasa-rasanya momen lebaran akan teringat selalu dan menjadi kenangan yang indah. Tak terkecuali tradisi Lebaran. Setiap orang punya tradisi Lebaran masing-masing, menurut adat-istiadat setempat, atau kebiasaan masyarakat. Salah satunya adalah tradisi hantar-menghantarkan rantang jelang Lebaran, atau biasa disebut dengan tradisi rantang didaerah asal ingat kah kawan sekalian dengan rantang? Ya rantang, yang biasanya terdiri dari empat mangkuk-an, disusun rapi ketas. Warnanya kebanyakan berwarna silver polos, ada juga dengan ornamen bunga-bungaan yang dibuat timbul keluar maupun tidak, dan ada juga yang bercorak seperti baju tentara atau loreng-loreng. Kuno ya terlihatnya, dan terkesan tidak elite, tidak punya prestice sama sekali. Saya tidak tahu, apakah kawan sekalian punya perabot ini, atau tidak dirumah, sebagai barang koleksi, atau pajangan yang sewaktu-waktu bisa dipergunakan untuk keperluan tertentu. Yang pasti dijaman itu, tahun 1990-an orang-orang didesa saya gemar membeli perabot rumahtangga yang satu ini. Setiap rumah pasti memlikinya. Hal ini tak lain, tak bukan, karena kegunaan rantang yang sangat membantu dan bermanfaat. Tidak hanya sebagai wadah untuk menghantarkan makanan siang keladang dan sawah, tapi juga untuk kegunaan lainnya, yaitu sebagai wadah untuk menghantarkan hantaran jelang seorang kenalan di Singapura memesan makanan dan dihantarkan dengan rantang berwarna silver polos, ingatan saya langsung tertuju pada tradisi rantang didaerah asal. Itu benar-benar merupakan suatu tradisi yang begitu kental dan terus terekam dalam otak saya hingga saat ini. Disadari atau tidak, dijaman itu, saling hantar-menghantarkan makanan khas ini sangat ditunggu-tunggu oleh warga desa. Momen-nya benar-benar dinantikan setiap menjelang bulan puasa. Rasa-rasanya lega sekali bila suatu keluarga telah melakukan kegiatan ini, serasa tidak ada beban lagi. Tak harus makanan berlabel mewah, namun sesederhana mungkin, semampunya, seberapa besar anggaran yang dimiliki oleh warga untuk membuat hantaran rantang itu tradisi rantang Lebaran? Saya tidak tahu apakah kawan sekalian punya tradisi Lebaran yang satu ini, atau tidak, dalam menyambut Hari Raya AidilFitri/ Lebaran. Ditempat kami daerah asal saya tradisi ini biasa dilakukan oleh masyarakat setempat, guna menyambut/ menandakan Lebaran akan segera tiba. Biasanya, dilakukan jelang akhir bulan puasa, yaitu satu minggu sebelum hari raya tiba. Jadi, menginjak minggu keempat dibulan Ramadhan, orang silih-berganti saling hantar-menghantarkan rantang kepada kerabat dan tetangga sekitar. Unik ya...sayapun mengatakan ini tradisi unik dan sangat apakah rantang-rantang itu dihantarkan dalam keadaan kosong sebagai hadiah Lebaran, atau kah ada isi didalamnya? Tentu saja, didalam rantang itu ada isinya. Yang dihantarkan pada kerabat dan juga tetangga adalah isi didalam rantang tersebut bukan rantangnya sebagai hadiah Lebaran. Kira-kira apa ya isi dari rantang-rantang tersebut? Isinya adalah nasi, daging ayam dimasak santan kadang ada beberapa orang memasak daging ayam dengan cara dikecap, sambel goreng tempe dan tahu bila punya anggaran lebih bisa ditambahkan dengan kentang, hati ayam, dan petai, mie telor/ bihun goreng, telur rebus satu/ dua biji jika ingin diberi telur dengan anggran lebih, terakhir kerupuk unyil. Wuah...mantap kan isinya??...Sangat menggugah selera makan. Bisa dimakan saat buka puasa dan sahur. Terlebih lagi bila dalam satu hari kita mendapatkan dua sampai tiga hantaran rantang!!Penyusunan makanan didalam rantang tersebut dibuat berurutan, mangkuk rantang paling bawah disi degan nasi, mangkuk rantang selanjutnya diisi dengan masakan daging ayam, keatas lagi bisa diisi dengan mie/ bihun goreng, sambal goreng, telur rebus pilih salah satunya atau semuanya, mangkuk rantang paling atas diisi dengan kerupuk unyil. Masing-masing dari urut-urutan peletakan makanan itu selalu sama dan tak pernah berubah. Setiap rantang pasti memiliki urutan makanan yang sama. Karena rasa-rasanya tidak etis bukan...bila nasi diletakkan pada bagian atas rantang, sementara kerupuk yang memiliki berat paling ringan diletakkan diurutan paling nih, penerima hantaran rantang harus segera memindahkan isi didalam rantang untuk kemudian memberikan kembali rantang tersebut pada pengirim rantang diwaktu bersamaan. Jadi, sewaktu ada orang yang mengirimi kita rantang Lebaran, kita harus segera memindahkan nasi beserta lauk-pauknya kepiring kita sendiri. Selanjutnya, kita berikan kembali rantang tersebut. Karena diluar rumah ada yang menunggunya. Kalau jaman dulu, sewaktu saya kecil, biasanya anak-anak kebagian menghantarkan rantang. Dulu sayapun selalu kebagian tugas untuk menghantarkan rantang Lebaran pada kerabat dan tetangga sekitar. Sering sekali sampai harus memanggil kawan-kawan sepermainan saya untuk membantu menghantarkan rantang-rantang itu. Sementara orang dewasa, seperti ibu dibantu oleh kakak sepupu berbagi tugas untuk masak-masak didapur dari pagi sampai lewat tengah hari. Maklumlah...keluarga kami saat itu biasanya memasak hantaran rantang dalam jumlah lumayan banyak, bisa untuk kenduri 60 lumayan besar untuk melakukan tradisi rantang Lebaran tersebut. Tetapi seperti yang sudah saya bilang diatas, tradisi ini bisa dilakukan dengan cara sederhana, semampunya saja. Tetangga satu RT rukun tetangga saja sudah banyak jumlahnya, apalagi bila ditambah dengan kerabat, serta kenalan-kenalan lain diluar RT. Oleh karenanya, tidak semua orang melakukan tradisi ini. Hanya mereka yang merasa punya anggaran saja yang melakukannya. Bila seseorang benar-benar tidak mampu, untuk biaya makan sehari-hari saja sulit, maka merekalah yang akan mendapat hantaran rantang, dan tentu saja menjadi prioritas. Tetapi ada juga orang-orang yang membuat hantaran rantang hanya untuk tetangga kanan-kiri saja, sehingga biayanya tidaklah besar. Karena untuk masak daging, biasanya warga desa tidak membeli daging ayam, namun menyembelih ayam peliharaan sendiri. Bila hanya punya peliharaan bebek, maka bebek itulah yang disembelih untuk dimasak. Terlebih lagi disaat itu, masih banyak warga desa yang memiliki beras hasil panen sendiri. Jadi, untuk masalah biaya, tradisi hantaran rantang Lebaran tidak terasa memberatkan warga, malah mereka begitu demi tahun tradisi itu mulai memudar, dan benar-benar menghilang untuk saat ini. Saya sendiri tidak tahu kapan persisnya. Dari keluarga kami sendiri, memang sengaja menghentikan tradisi rantang Lebaran ini. Pertimbangan akan biaya menjadi kendala. Maklum...setelah keluarga kami berada pada titik nol ditahun 1995, jangankan membuat hantaran rantang untuk tetangga kanan-kiri, barang untuk makan sehari-hari saja kami kesusahan. Sekali waktu setiap jelang Lebaran, keluarga kami masih mendapat rantang Lebaran. Namun lama-kelamaan tidak ada yang menghantarkan rantang Lebaran lagi. Orang-orang sekitarpun sudah mulai enggan melakukan tradisi ini. Entah mengapa, namun pada akhirnya saya mulai mengerti, tradisi itu sudah berganti dengan tradisi menghantarkan sebotol sirup dan kue itupun hanya untuk kerabat dekat saja.Mengapa tradisi rantang Lebaran menghilang dan berganti dengan tradisi menghantarkan sirup dan kue? Dari pengamatan saya pribadi, warga/ masyarakat sudah tidak tertarik lagi dengan “berepot ria” memasak hantaran rantang Lebaran untuk tetangga dan kerabat. Kuno, hanya itu kata yang pas menggambarkannya. Rantangnya saja sudah tak diminati untuk dibeli dan menjadi salah satu perabot rumahtangga. Jangankan membeli, bahkan dipasarpun sudah sulit untuk menemukan penjual rantang, malah sudah tidak ada. Lho, kenapa tidak tertarik lagi untuk menjalankan tradisi ini? Setahu saya, menginjak tahun 2000-an, didaerah asal saya, setiap jelang lebaran, disetiap rumah kesibukannya sudah berubah. Yang tadinya sibuk mempersiapkan/ membuat hantaran rantang dihari tertentu, kini menjadi kesibukan membuat kue-kue Lebaran sepanjang Ramadhan. Ya...euforia membuat kue Lebaran sendiri sedang menjadi tren dan digandrungi masyarakat disana, hingga saat tidak heran, tradisi rantang Lebaran hilang bak ditelan bumi. Berganti dengan hantaran kue serta sirup, yang katanya lebih praktis. Akhirnya, menumpuklah berbotol-botol sirup dirumah keluarga kami, entah diberi kerabat, tetangga, maupun tempat ayah bekerja. Saya ingat betul satu hal, karena diminta untuk menghabiskan sirup-sirup yang ada dirumah tidak ada yang doyan sirup rasa jeruk itu kecuali saya, saya ini selalu diare tiap Lebaran! Lho..lebih berkesan rantang lebaran kan...saya sendiri merasakan itu. Meski tidak suka daging ayam, saya suka dengan sambal goreng, mie goreng, dan kerupuknya. Karena tidak semua orang suka dengan minuman sirup, dan juga kue-kue. Contohnya saya, maaf ya dengan jujur saya katakan kalau saya termasuk orang yang tidak begitu suka dengan kue-kue Lebaran ya mungkin karena bosan, dimana-mana kuenya sama, apalagi dulu itu tiap jelang Lebaran selalu membantu seorang tetangga membuat pesanan kue-kue Lebaran. Ya maklum juga...lidah saya ini sukanya singkong goreng, kelanting, kripik singkong, keripik pisang...Setiap Lebaran, berkunjung kerumah saudara/ tetangga, yang saya cari dimeja adalah kripik singkong, atau kelanting saya berusaha untuk menghidupkan kembali tradisi rantang ini, namun ditolak oleh ibu saya. Ibu saya lebih suka mengocok telur beserta gula pasir untuk kemudian dibuat kue, dan dibagikan pada kerabat. Sering saya ini merasa sedih, kangen dengan masa-masa itu, dimana warga saling kunjung-mengunjungi seminggu sebelum hari raya, hanya untuk sekedar bersilaturahmi dengan mengantarkan makanan hasil masakan sendiri dengan wadah rantang. Meskipun yang datang hanya anak tetangga yang sedang masak-masak untuk hantaran, buat saya, itu adalah kenangan indah didaerah asal dimana warganya terlihat rukun dan damai. Bahkan warga non-muslimpun bisa ikut serta dalam tradisi ini. Indah bukan...Maknanya tidak hanya sekedar makanan yang kita hantarkan, tapi rasa persaudaraan begitu kental, mengajarkan untuk berbagi pada mereka yang tidak mampu meski kita hanya bisa memberi nasi dan lauk-pauk seadanya kita punya. Dan juga sebagai ucapan syukur pada Sang Pencipta atas berkah yang diberikan. Luar biasa maknanya...Saya tidak tahu, apakah masyarakat disana daerah asal saat ini merasa kehilangan tradisi ini atau tidak, atau bahkan sudah lupa sama sekali. Dilupakan seperti rantang-rantang itu, yang dianggap kuno dan banyak dibuang oleh pemiliknya. Rantang itu kuno...tradisi hantaran rantang Lebaran juga kuno....! Yang pasti, dalam diri saya pribadi, saya ingin sekali menghidupkan tradisi ini, minimalnya dalam kehidupan saya dan suami tercinta. Meskipun belum terwujud hingga saat ini, dikarenakan setiap lebaran tidak berada ditempat “riwa-riwi”. Tapi, bila nanti disuatu lebaran bila diberi umur panjang kami berada ditempat tidak pergi kemana-mana, saya pasti akan memasak untuk tradisi rantang Lebaran. Lihat Sosbud Selengkapnya

lebaran jaman dulu dan sekarang